Pages

Test Footer

Test Footer 2

Blogroll

Blogger templates

Test Footer 1

ANAK KITA TIDAK HANYA BUTUH MAKANAN YANG BERGIZI SAJA UNTUK BISA HIDUP SEHAT



Sering kali orang tua hanya berfokus untuk memilihkan makanan2 sehat untuk tumbuh kembang putra-putrinya. Memilihkan susu terbaik, sayuran tersegar, ikan yg segar dsb.
Tapi sayangnya banyak orang tua yg tidak tahu bahwa PIKIRAN ANAK juga membutuhkan makanan yg sehat untuk tumbuh kembang moral dan akhlaknya. Dalam ilmu pengetahuan modern di ketahui bahwa di dalam PIKIRAN yg sehat terdapat Tubuh yg sehat - Soul Mind Body Connection -
Tahukah anda apa saja makanan sehat untuk tumbuh kembang pikiran, etika, moral dan akhlak seorang anak ?
1. Pemilihan ucapan dan kata2 yg positif terutama pd saat anak gagal mencoba
2.Pujian yg tulus pada setiap usaha kecil yg berhasil dilakukan anak.
3. Tontonan TV yg mendidik, tdk mengandung unsur kekerasan dan pornografi.
4. Contoh prilaku positif dan teladan dari kedua orang tuanya.
5. Senyuman tulus setiap hari dari orang tuanya.
6. Nada yg lembut dalam berbicara pada anak.
7. Bermain bersama dengan peralatan yg ada di sekitar rumah.
8. Mendongengkan anak menjelang tidur
9. Memilihkan sekolah yg peduli pada PRILAKU MORAL muridnya
10. Memilihkan sekolah yg sistem dan guru2nya ramah anak.
11. Memilihkan mainan yg mengedukasi, tdk mengandung unsur kekerasan.
Jika masih ada lagi makanan sehat bagi perkembangan pikiran dan akhlak anak mari kita berbagi pengalaman d isini....
Jika hari ini kita semua mulai mau melakukannya maka anak kita kelak tidak hanya memiliki tubuh yg sehat, melainkan juga memiliki prilaku moral dan akhlak yg sehat. Sehingga Bangsa Indonesia bisa menjadi Bangsa yang SEHAT.
Selamat beraktifitas !!!!
- ayah edy-

Cinta Al-Qur'an Pada Anak


Pada usia ini, sangat tidak mungkin keberadaan pengajaran Al-Quran atau pun menghafalkannya menjadi sempurna.
Namun, dimulainya metode-metode pendidikan yang paling utama dalam upaya menanamkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Quran sesudah tahun kedua, yakni berdasarkan keteladanan.
Aktivitas keteladanan pada fase ini merupakan bagian penting dan inti dalam mengarahkan perilaku anak.
Karena itu, semenjak tahun kedua, jika anak kecil merasakan kecintaan kedua orang tuanya terhadap Al-Quran dari celah-celah perilaku keduanya, maka perasaan ini akan berpindah kepada dirinya secara otomatis, tanpa harus ada usaha keras dari keduanya.
Jika ia mendengar lantunan Al-Quran di rumahnya atau ia terbiasa melihat orang tuanya membaca Al-Quran, ini semua akan melahirkan perasaan senang terhadap Al-Quran pada dirinya.
Jika ia memperhatikan bahwa kedua orang tuanya merasa gembira dengan adanya seorang Syaikh yang melantunkan Al-Quran saat keduanya sedang memutar channel radio, lalu kedua orang tuanya duduk untuk mendengarkan Syaikh tersebut dengan penuh perhatian dan ketenangan, maka ia akan belajar menaruh perhatian dengannya dan tidak mengutamakan sesuatu yang lain di atasnya.
Jika ia melihat keduanya memilih tempat-tempat yang paling utama dan paling tinggi untuk meletakkan mushaf, lalu keduanya tidak meletakkan seuatu pun di atas Al-Quran tersebut, serta keduanya tidak meletakkannya pada tempat-tempat yang tidak layak, maka sesungguhnya hal tersebut akan merembes ke dalam akal sehat anak.
Dengan demikian, seiring dengan berjalannya waktu, ia akan mengetahui bahwa mushaf ini merupakan sesuatu yang agung, besar, mulia, serta wajib dihormati, dicintai, dan disucikan.
Dari sisi lain, jika suatu saat anak merasa risau dengan kedua orang tuanya yang melalaikan dirinya karena membaca Al-Quran, lalu ia menghampiri keduanya dan menghentikan aktivitas keduanya, maka keduanya janganlah membentak dan menghardik.
Namun hendaklah salah satu dari keduanya justru merengkuhnya dalam pelukan serta berkata kepada anaknya, “Ini adalah kitab Allah.” Dengan demikian, anak akan merasa cinta terhadap Al-Quran Al-Karim.
Pada fase ini, anak lebih banyak belajar dengan cara taklid (mengikuti orang lain) daripada pembicaraan.
Selain itu, dengan tanpa disadari, program “menjadikan anak cinta Al-Quran” pada usia ini akan menjadi sempurna dan terus mengikatnya.
Jika seorang anak tumbuh di dalam rumah yang di dalamnya hanya ada nyanyian, musik yang memekik, tarian dansa, dan yang semisal itu, apa kiranya yang bisa diharapkan dari si anak?
Oleh karena itu, jika Anda hendak menanamkan kecintaan terhadap Al-Quran pada anak-anak, berusahalah untuk menjadi teladan yang baik dalam berinteraksi dengan Al-Quran Al-Karim.
-inspirator muslimah
via Status Nasehat

"ORANG BERLOMBA-LOMBA INGIN ANAKNYA PINTAR DAN JUARA"


"ORANG BERLOMBA-LOMBA INGIN ANAKNYA PINTAR DAN JUARA" MESKIPUN TANPA SADAR TELAH MEMBUAT ANAKNYA STRESS KARENA TERLALU BANYAK BELAJAR DAN IKUT KURSUS ATAU BIMBEL
Penemuan-penemuan hebat di dunia terjadi pada saat otak ilmuan tersebut rileks dan bukan saat sedang stress. Semisal Newton menemukan hukum gravitasi di bawah pohon apel, Achimedes menemukan hukum gaya berat saat ia berendam di bathtub (kamar mandi)
Bahkan dalam buku Biografi Einstein di katakan jika ia mengalami jalan buntu maka ia akan bermain musik atau pergi ke tempat-tempat yang indah untuk melamun dan bersantai.
Da Vinci ketika di minta melukis salah satu gedung penting di Roma malah lebih banyak tidur, hingga ia di marahi oleh Penguasa Roma Saat itu. Dan Da Vinci menjawab tidurku adalah untuk menghasilkan inspirasi yang nanti akan kalian sebut sebagai Maha Karya Seni yang Jenius.
Bahkan konon Mark Zuckerberg menciptakan face book yang sedang kita gunakan saat ini, juga sambil chatting ketawa ketiwi bersama teman-temannya.
Jadi tidak mungkin seorang anak menjadi pintar apa bila ia selalu mengalami stress dengan pola belajar, test dan ujian.
Dan hasil penelitianpun mengatakan bahwa otak manusia akan berkerja secara penuh saat ia rileks dan bahagia.
Contoh yang sederhana adalah ketika kita stress diminta untuk tampil di panggung berpidato atau memberi sambutan maka semua teks yang kita sudah kuasai tadi malam tiba2 saja hilang begitu saja dan otak kita jadi BLANK !
Jadi buatlah sistem pembelajaran yang menarik dan membahagiakan setiap anak dirumah dan disekolah.
kami telah melakukannya di rumah dan di sekolah, yuk ...?

SEBUAH PENGALAMAN KISAH NYATA YANG DI RANGKUM DALAM KATA-KATA

 
 
Seorang ibu datang berkonsultasi pada kami tentang anaknya yg suka memukul, teriak2, bertengkar dengan kakaknya setiap hari, dan segudang prilaku buruk lainnya....
Hanya ada 5 saran dari kami:
1. Hilangkan semua tayangan TV yg merusak di rumah dan ganti dengan aktivitas fisik atau olah raga pada anaknya atau Edu Game (program komputer pendidikan anak)
2. Perbaiki prilaku orang tua dan cara mendidiknya dengan membaca buku-buku kami (37 kebiasaan buruk ortu yg melahirkan prilaku buruk anak dan Ayah Edy menjawab). atau buku2 parenting lainnya. dan praktekkan isinya dengan sabar.
3. Dengarkan CD PARENTING TALKSHOW ayah Edy sesering mungkin dan praktekkan isinya.
4. Praktekan mulai hari ini juga dengan tekun dan sabar setahap demi setahap dan jangan pernah menyerah untuk mencoba dan mecoba lagi, seperti seorang anak balita yg berusaha untuk bisa berjalan.
5. Jika sumber prilaku anak berasal dari sekolahnya yg hanya peduli pada angka2 dan bukannya pada pembentukan prilaku dan akhlak anak maka pindahkanlah anak kita ke sekolah yg peduli moral semisal sekolah alam, atau sekolah PEDULI AKHLAK lainnya disekitar tempat kita tinggal, jika tidak ada sekolah yg perduli moral dan akhlak anak, lebih baik di Home Schoolingkan saja.
Selang 6 bulan sang Ibu kembali menghubungi kami, dan apa katanya:
1. 1 bulan pertama setelah perjuangan berat meniadakan TV dirumah anakanya banyak sekali berubah prilakunya menjadi lebih bisa di kendalikan dan tidak lagi agresif.
2. 3 bulan setelah memperbaiki prilaku diri 37 Kebiasaan buruk mendidik.... sesuai di kedua buku tersebut anaknya mulai bisa di ajak kerjasama dan mau mendengarkan.
3. 4 bulan setelah mendengarkan CD KOMPILASI PARENTING AYAH EDY, suami mulai mau peduli dan sadar untuk ikut serta mendidik anak dan menyadari semua kesalahan selama ini. Anak2pun menjadi jauh lebih baik.
4. Sayangnya dulu saya sering ragu untuk mempraktekkannya, tapi setelah mulai mau mencoba sedikit2 sy menyesal mengapa tidak dari dulu saya mengetahui ini semua dan kenapa gak cepat2 sy praktekan.... bahkan sempat berpikir kenapa hal yg bagus ini kok dulu gak di ajarkan di sekolah ya....
Ah.....akhirnya sy bisa menarik nafas lega.....dan bersyukur 1 keluarga Indonesia sudah berhasil dan berubah.
Semoga akan lebih banyak lagi keluarga2 Indonesia yg berubah menjadi lebih baik sehingga masa depan bangsa ini pun akan menjadi lebih baik.
Aminnnnn ya Allah....10.000x
Let's Make Indonesian Strong from Home !!!!!!
Kalau bukan kita, mau berharap pada siapa lagi ?
Kalau bukan sekarang mau kapan lagi...?
Komunitas AYAH EDY

MENYALAHKAN ANAK KITA

Kesulitan terbesar dalam hidup kita sebenarnya bukanlah mengubah PERILAKU BURUK ORANG LAIN, melainkan mengubah perilaku buruk kita sendiri yang sering MENYALAHKAN ORANG LAIN.
Dan Kesulitan terbesar kita sebagai orang tua sebenarnya bukanlah mengubah perilaku buruk anak kita, melainkan mengubah perilaku buruk kita sendiri yang sering MENYALAHKAN ANAK KITA.
www.ayahkita.com

Korban Sistem Pendidikan Dan Sekolah Salah Kurkulum



Sekolah-sekolah di Jepang ternyata lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mendidik etika perilaku dan budipekerti murid-murid sekolah mereka mulai pra sekolah atau TK hingga Sekolah Dasar, selama kurun waktu lebih kurang 2+6 tahun. = 8 tahun.

Sekali Lagi tentang Kenakalan Anak


Tak akan menjadi kenakalan jika saat awal muncul gejala segera ditangani. Jika kenakalan dibiarkan, ia bahkan dapat menjadi kriminalitas. Perilaku nakal (challenging behavior) muncul karena perilaku anak yang tak sesuai dibiarkan saja, baik oleh orangtua maupun guru.
Kita memang tidak boleh menjuluki anak dengan sebutan nakal. Tapi memahami kenakalan itu sangat berbeda dengan menjuluki (apalagi mengolok). Sangat berbeda pula dengan menggunakan kata nakal untuk menekan anak agar patuh atau sekedar melampiaskan kekesalahan tanpa kendali.
Yang harus kita ingat adalah, kenakalan itu ada. Kenali sebab sebelum muncul. Tangani saat timbul gejala agar tidak berkembang serius. Perilaku yang tidak pantas akan berkembang dalam dua kemungkinan apabila dibiarkan: ke arah penyimpangan & puncaknya berupa abnormalitas; atau ke arah kenakalan yang puncaknya adalah kriminalitas. Dan yang terakhir ini terjadi di negeri kita. Bahkan di tingkat anak-anak.
Ironisnya, sampai pun terjadi kriminalitas (kejahatan) oleh remaja dan bahkan anak-anak, masih saja ada yang menganggap kenakalan tidak ada. Menganggap bahwa kenakalan itu benar-benar tidak ada menjadikan kita abai bahkan ketika perilaku anak sudah sangat buruk. Kita anggap wajar sehingga membiarkan. Padahal seharusnya kita benahi sedari awal. Bukankah ini yang kita temukan pada teladan kita? Bukankah kita dapati Rasulullah shallaLlahu ’alaihi wa sallam segera mengoreksi ketika ada anak yang makan dengan tidak tertib?
Kadang perilaku tidak patut itu muncul alamiah akibat rasa ingin tahu anak. Ini pun tetap perlu diluruskan dengan tetap menyadari itu wajar. Meluruskan perilaku yang tidak patut sangat berbeda dengan mencela, berbeda pula dengan menjatuhkan. Ini yang harus kita ingat.
Mohammad Fauzil Adhim
 

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.